Cerita Sex Ranjang Siang Ranjang Malam – Nama panggilanku Tanti. Aku seorang ibu dari dua putera. Si sulung, Afiya, berusia 12 tahun, duduk di bangku SD kelas VI, sedangkan si bungsu, Akbar, berusia 7 tahun, duduk di kelas 2 SD. Usiaku 35 tahun. Jika dilihat secara sekilas, kehidupan rumah tanggaku dengan suamiku, Mas Robby, cukup bahagia dan ‘sempurna’. Secara ekonomi, keluarga kami memang sangat berada. Kondisi keluarga kami juga baik-baik saja. Suamiku sehat, anak-anakku juga sehat. Namun, terus terang ada sebuah luka menganga yang cukup dalam di hatiku, yang kerap mengganggu ketenanganku. Luka menganga itu dipicu oleh sebuah perilaku yang pernah aku lakukan dan ternyata terus menghantuiku.

Terus terang aku pernah selingkuh. Kurang lebih delapan tahun lalu, ketika Aliyah masih balita, aku tergoda oleh sebuah permainan panas. Permainan panas itu disuguhkan oleh bosku. Aku biasa menyapanya Pak Zul. Dia sebagai kepala kantorku. Kebetulan aku bekerja di sebuah instansi jasa di kota tempatku tinggal di Pasuruan, Jawa Timur. Saat itu Pak Zul adalah seorang bos baru yang baru dipindahkan dari Sumedang, Jawa Barat. Sebagai orang baru, tentu ia tak tahu seluk-beluk daerah Pasuruan. Begitu pula dengan adat-istiadatnya.

Pada awalnya, aku hanya diminta untuk menunjukkan tempat-tempat menarik, tempat makan yang asyik, juga beberapa tempat untuk cuci mata. Ya, karena Kota Pasuruan tidak begitu besar, aku pun dengan lancar menunjukkannya. Kami berdua tidak memakai sopir jadi kendaraan disopiri sendiri oleh Pak Zul. Kebetulan dia memang tak bawa istri, karena rumah, istri dan anak-anaknya masih di Sumedang. Dia mengira ditempatkan di Pasuruan hanya sementara, untuk membenahi manajemen kantor yang amburadul. Sekedar tahu, Pak Zul masih muda, usianya baru menginjak 38 tahun saat itu.

“Hati-hati dengan saya, saya sedang menginjak puber kedua lo,” godanya kala itu. Aku hanya tersenyum karena aku tahu itu hanya guyon. Di samping itu, aku tahu dia sudah berkeluarga. Anaknya juga sudah tiga. Dan, aku pun juga sudah berkeluarga. Namun, setan memang lebih pintar dari manusia. Kesempatan selalu saja dibuka bagi mereka yang berpikiran picik dan sementara. Itulah yang terjadi padaku. Sejak kami berkeliling kota berduaan, aku merasa ada yang berbeda dengan Pak Zul. Cara dia menatap, cara dia tersenyum, cara dia memperlakukanku, sungguh sangat lain. Aku begitu tersanjung. Atau, mungkin, aku terlalu GR (Gede Rasa), aku tak tahu. Aku sendiri sampai takut pada diriku sendiri. Jangan-jangan aku mulai jatuh simpatik padanya. Atau, malah jatuh cinta padanya. Ah !

Bahkan, dalam pertemuan-pertemuan berdua karena kepentingan kerja selanjutnya, dia seringkali menyisipkan pertanyaan-pertanyaan pribadi yang begitu memperhatikanku. Misalnya, ketika aku baru potong rambut, ia bertanya, ”Tata rambutnya kok menawan, menatanya di salon mana ya ?” Aku pakai setelan baju dengan rok yang agak sedikit seksi, dia pun berkomentar bahwa aku sangat modis. Suatu ketika aku mencoba make up baru, dia tanpa sungkan memujiku bahwa aku sangat cantik. Hmmm… Terlebih dari itu, dia juga kerap menanyakan apakah aku sudah makan atau belum. Jika belum, dia pasti akan mengajakku untuk makan di luar bersama beberapa staf lainnya. Sebuah perhatian yang melebihi kapasitas seorang bos pada anak buahnya. Tak heran, aku pun merasa sangat istimewa di depannya. Namun, yang canggih, Pak Zul tak akan menanyakan hal-hal yang pribadi itu bila di depan karyawan lainnya. Dia sangat bisa menjaga privasi.

Video Bokep

Sumber