Cerita Dewasa Seruni Gadis Kecil Bertetek Besar Aku tidak bisa mengingat secara rinci apa yang kualami ketika masih baru memasuki SMP. Namun kisah itu sangat berkesan dan selalu kuingat sampai sekarang. Sebagai anak yang baru masuk SMP, aku tentu saja agak pemalu. Tidak ada yang kukenal seorang pun di kelas ini, karena aku pindahan sekolah dari luar kota. Sekitar 3 bulan aku mulai banyak mempunyai teman, tapi terbatas teman-teman laki-laki saja. Aku masih malu berteman dengan perempuan. Maklumlah umurku baru 12 tahun.
Aku cepat terkenal di kelasku karena kepintaranku. Semua mata pelajaran kukuasai dengan baik, sehingga pada ulangan semesteran kemudian nilai terendahku pada Bahasa Indonesia, yakni 9.
Aku bukan kutu buku, yang rajin belajar di rumah. Jika di rumah jarang aku gunakan waktuku belajar. Aku banyak mengisi waktu dengan bermain dengan teman-teman di sekitar rumah.
Teman-teman kelasku tidak ada yang menonjol, kecuali satu seorang cewek. Dia kelihatan begitu beda karena ukuran susunya yang menurut anak seusia kelas 1 SMP, terlalu besar. Badannya tidak gemuk sehingga tonjolan susunya sangat membusung. Wajahnya rata-rata saja. Tidak terlalu cantik, tetapi juga tidak jelek juga. Aku mengenalnya karena dia yang memulai mengakrabkan diri denganku. Aku sendiri canggung kalau mendekati cewek, meski pada umur segitu, sudah ada rasa tertarik pada cewek.
Si tetek besar itu namanya Seruni, panggilannya Runi. Jika ada PR dia selalu datang pagi-pagi sekali sekitar sejam sebelum bel. Aku juga terbiasa datang pagi, meski tidak secepat si tetek besar. Runi akan datang rajin pagi-pagi kalau ada PR yang tidak bisa dia kerjakan. Dia selalu memintaku membantu membuat PR nya. Sementara aku dibebaskan oleh semua guru untuk tidak membuat PR, karena aku murid pintar. Kami terbiasa duduk berdua di dalam kelas pagi-pagi sekali. Runi pada pagi itulah dia membuat PR. Aku malas mengajari, karena pasti perlu waktu panjang, jadi aku beri saja jawabannya. Agar tidak menimbulkan kecurigaan guru-guru tidak semua jawaban yang kuberi adalah benar. Pokoknya dia dapat nilai 7 saja sudah bagus.
Oh ya, Runi bukanlah anak pintar di kelas ku. Aku malah merasa jika dia termasuk murid yang bodoh. Padahal kuperhatikan dia rajin, jarang bolos, selalu mencatat dan buku-bukunya lengkap dimiliki.
Aku sama sekali tidak ada hati terhadap Runi, tetapi sebaliknya dia selalu ingin akrab denganku. Mungkin karena baru berumur 12 aku belum terlalu ada rasa terhadap lawan jenisku. Tetapi sebetulnya di dalam diri ini bergejolak juga birahiku. Kadang-kadang kalau beronani aku membayangkan bermesraan dengan Runi..
Pembagian rapor semester pertama , rapor Runi kebakaran, alias banyak merahnya dibanding angka biru.
Orang tuanya sibuk mencari guru les, sampai Runi pun diikutkan Bimbel. Sekitar 3 bulan berjalan, tidak ada perubahan. Nilainya tetap saja jelek, kecuali PR yang jawabannya dariku.
Suatu hari ketika seperti biasa Seruni minta dibuatkan PR, dia minta aku menjadi guru lesnya. Aku merasa kurang percaya diri menjadi gurules, kan kami sama-sama kelas 1, dan aku sama sekali belum pernah terpikir ngajari les. Namun Seruni terus merajuk, sampai-sampai ketika pulang sekolah aku digamit ibunya yang menjemput memintaku sungguh-sungguh menjadi guru les Runi.
Sebetulnya aku mau sih, tetapi terus terang aku malu kalau memberi les Seruni. Setelah kupikir-pikir karena tidak punya kata-kata menolak permintaan mereka, Aku menyetujui, tetapi lesnya di rumahku . Aku tidak mempersoalkan bayaran, bahkan pada awalnya aku tidak mau dibayar, tetapi ibunya bersikeras akan memberiku honor mengajar.

Klik Videonya>>>

Sumber