Cerita Dewasa Warisan - Aku dibaringkan diatas karpet, baju ku juga sudah lepas semua. Lalu badan ku langsung diserang oleh orang-orang itu. "Badan mu memang bagus Maya, sudah beranak juga masih kenyal", kata Pak Warsidi. "Jangaaan pakkkkk, jangann perkosaa sayaaa", kata ku. Badan ku diraba-raba oleh Pak Warsidi. Payudara ku diempotnya habis-habisan. Rasa geli menjalar diseluruh tubuh ku. "Mbah boleh pinjam raga saya kalau mau coba badan Maya", kata Paka Warsidi. "Cukup kamu saja Di", aku titipkan ke kamu. Pak Warsidi melanjutkan menikmati tubuh ku, sedangkan orang banyak itu masih berdiri mengelilingi ku. "Tempik mu rapat juga ternyata, tempik mu bagus buat menghasilkan keturunan, sayangnya anak mu cuma satu", puji Pak Warsidi sambil mengobok-obok vagina ku. "Sudahhhhh Pakkkkkkk", "Mustika ini memang buat anak mu, jadi biar dia yang ambil", "Di ini perempuan yang jaga dia", kata seorang yang berperut buncit. Anak gadis itu diseret dan diikat oleh mereka. Gadis yang sering muncul dalam mimpi ku. Aku langsung diposisikan duduk diatas pangkuan Pak Warsidi. Bibirku dilumatnya habis-habisan. Air liur kami bercampur jadi satu. Payudara ku terus diremas-remas olehnya. Aku dibaringkannya lagi, kaki ku dibuka lebar-lebar lalu vagina ku dijilatinya dengan lahap. "Aaauuuhhhhhh gelliiiiii", Lidah Pak Warsidi liar menjelajahi vagina ku, bahkan menyentuh dinding rahim ku. Dia melepas celananya dan mengeluarkan penisnya yang besar dan berurat. Penis itu terus berkedut-kedut seperti vibrator. Aku disuruh mengempot penis itu. "Ini sedot dulu Maya", perintah Pak Warsidi sambil menyodokkan penisnya ke mulut ku. "Sedot kontol ku Maya", "Aaaahhhhgggggggg", aku tersedak. Penis itu berkedut-kedut dalam mulut ku. Sesekali dia menghentakkan pinggangnya sehingga dia seperti sedang mengentot mulut ku. Posisinya ganti lagi, aku dibaringkan dan dia langsung menindih badan ku. Tanpa basa-basi penis besar itu langsung membobol vagina ku. "Ini rasakan kontol naga", kata Pak Warsidi. "Pelan paaakkkk besaaaarrrrr", kontol itu terus berdenyut-denyut mendesak dinding rahim ku. Rasanya kontol itu masuk begitu dalam, ngilu sampai diujung kepala. "Aaaahhh aaaaaahhh aaahhhh akuuuhhhhh keluaaaarrrr paaaaakkkk", aku orgasme. "Terus Maya enaakkk". Sekarang aku ada diatas Pak Warsidi dia senang melihat ekspresi wajah ku. Kini ganti aku yang mengentot lelaki 40 tahun itu. "Akuuuhhh kelllluuaarrrr lagiiiii", aku orgasme beruntun. Posisi diatas membuat ku orgasme berkali-kali. Tiba-tiba Pak Warsidi membalik badan ku dan memposisikan menungging. "Aku mau coba yang ini", katanya sambil menusukkan Penis nya di anus ku. "Jangannnnn disituuuuuu pakkkkkaaaahhhhhhh", aku tak kuat menahan sakit. "Uuhhh sempit Maya", "Aaaahhhhhhhh sakittttttt", anus ku serasa robek dientot olehnya, tangannya juga sibuk memainkan klitoris ku. Setelah puas dengan anus ku dia membalikkan badan ku dan menindih ku. Aku dientotnya habis-habisan. Dia begitu kuat dan perkasa menghajar ku. "Sekarang aku titip mustika di itil mu, biar kamu makin binal dan satu lagi dirahim mu, besok anak mu yang ambil, biar dia juga dapat ilmu ku", kata Pak Warsidi. "Aaahhhh akuuuuuhhh keluaaarrr", aku orgasme yang sangat dahsyat. Hingga air pejuh ku muncrat-muncrat. "Crooottt crootttt crrrrrooooottttttt", pejuh Pak Warsidi keluar didalam rahim ku. "Terima ini Maya, kamu akan jadi binal", bersama pejuh Pak Warsidi keluar, ada dua buah batu warna putih besar dan kecil. Yang besar tinggal didalam rahim ku dan yang kecil menempel di kelentit ku kemudian hilang. "Mbah sekarang lepaskan si Kembang Kantil itu", kata Pak Warsidi pada makhluk aneh itu. "Maya sekarang kamu jadi perempuan yang disukai oleh semua orang, bahkan makhluk kasat mata". "Ampunn pakkk", aku menangis. "Sudah tak apa-apa, kamu pasti menikmatinya nanti", jawab Pak Warsidi sambil meremasi susu ku. Lalu suasana jadi makin gelap, aku tidak ingat apa-apa. Aku tertidur dalam keadaan belepotan sperma dan tanpa busana di ruang tamu. *** "Mah, bangun mah, mamah kenapa tidur disini?", Tony membangunkan ku.

Sumber